ALEX PERISH
Amankah kalo gue menyatakan bahwa Bernardo Bertolucci sebagai salah satu sutradara favorit gue meskipun gue baru nonton tiga dari dua puluh sembilan film ciptaannya? Karena dia telah memberikan dua film yang sempet bikin gue kepikiran terlepas dari kapan terakhir kali gue tonton filmnya. Kemarin udah sama Last Tango in Paris, sekarang gue mau bahas Stealing Beauty.
Ini bukan cuma tentang Alex Parish penyakitan nggak toksik itu (walaupun gue yakin ujung-ujungnya gue bakal banyak ngomongin dia), tapi gue juga mau ngomongin gimana Bertolucci bikin novelnya jadi sesuai buat film.
Dengan penuh rasa malu, gue rasa daya imajinasi gue udah tipis. Sekarat. Hampir ilang. Gue lebih nyaman nonton filmnya dulu daripada baca novelnya yang dimana membaca fiksi kan tujuannya biar merangsang imajinasi gue. Okelah mungkin gue lebay. Ga mungkin gue kesulitan membayangkan setiap adegan di novel separah itu dan cuma merasa lebih nyaman aja bagi gue buat baca novel tapi udah ada templatenya di kepala gue.
Stealing Beauty menceritakan tentang gadis usia sembilan belas tahun bernama Lucy Harmon (Liv Tyler) yang bepergian ke pinggiran Itali. Intro di film dan novel sama, yang Lucy direkam diem-diem sama om-om yang belakangan diketahui namanya adalah Carlo Lisca, yang jadi salah satu kandidat bapak kandung Lucy Harmon.
Alasan Lucy ke Itali dan tinggal di rumah temen mendiang nyokapnya bukan cuma sekedar liburan biasa. Dia pengen nyari bapak kandungnya berdasarkan jurnal yang ditulis nyokapnya. Dia juga pengen ketemu gebetannya dulu waktu terakhir kali dia kesana. Dia disuruh bokap tirinya buat dibikin patungnya sama yang punya rumah di Itali. Jadi banyak kan misi dia disana?
Sesampainya disana, diketahuilah yang tinggal disana gak cuma temen nyokapnya sama suaminya, alias Diana (Sinead Cusack) dan Ian (Donal McCann), tapi ada Miranda, anaknya dan cowoknya Richard. Ada juga lansia Prancis bernama Guillaume dan terakhir ada Alex, temen nyokapnya juga. Sebagian besar penghuni rumah lagi bobo siang kecuali Guillaume dan Alex yang lagi duduk diluar, infus di badan, berusaha ngeludahin semut di bawahnya.
Diana akhirnya kebangun, dia bangunin Ian yang kemudian Ian nganterin Lucy ke kamarnya. Kebetulan, kamar Lucy sebelahan sama kamar Alex.
Malemnya, Lucy berkesempatan di tegor duluan sama Alex. Di film, Lucy lagi nangis sendirian di kasur, nggak ada yang tau dia nangisin apa, sementara di novel, dia galau tapi ga nyampe nangis. Itupun karena kewalahan oleh pikirannya dia sendiri tentang ngikutin jejak nyokapnya sama memori dia tentang Niccolo. Gebetannya.
Pertemuan pertama Lucy dan Alex sebenernya mirip-mirip. Alex nyamperin kamar Lucy minta rokok eksotis dan mereka ketemu diluar. Kalo di film, pas mereka udah sama-sama diluar, Alex langsung ngomong; "It's not my best play." merujuk ke pertunjukan teaternya. Padahal kalo di novel, Lucy ngungkit drama itu dulu baru Alex bilang drama itu bukan karya terbaiknya. Dari situlah mereka mulai ngobrol dan Lucy merasa kalo Alex ini beda dari semua orang yang ngobrol sama dia sebelum Alex. Alex langsung to the point dengan nanyain hubungan seksual Lucy dan yang terpenting adalah, Alex nggak ngungkit tentang nyokapnya Lucy sedikitpun.
Semakin kemari, Lucy semakin deket sama Alex meskipun kadang ada keengganan juga dalam dirinya buat terlalu deket sama Alex. Tapi diantara semuanya, dia lebih deket sama Alex.
Lalu ada Ian, yang bikin patung dengan menggunakan Lucy sebagai model. Ada momen di film dimana Ian nyuruh Lucy nunjukkin dadanya di hadapan dia entah untuk apa.
Lalu ada juga cowo-cowo seperti Christopher, Osvaldo dan Niccolo yang bikin Lucy ketar-ketir. Seinget gue Lucy nggak ada urusan sama Christopher. Dia fokus ke Niccolo tapi di akhir dia malah dapet Osvaldo.
Richard yang cewenya pun tinggal di atap yang sama pun sempet ngegodain Lucy. Ngajarin dia akting kayak anjing. Miranda sebagai wanita hebat, langsung mutusin hubungan mereka setelahnya. Lagian Richard pun suka sibuk sendiri juga sih.
Lalu ada Carlo Lisca, pria yang muncul pertama yang ngerekam Lucy secara terang-terangan. Ada bagian menarik ketika Lucy dateng ke hadapan Alex sambil nangis. Dia ngebacain entry jurnal nyokapnya sambil dirangkul Alex tapi karena terlalu sedih, jadi Alex yang ngebacain. Lucy sempet berpikir, dari entry itu kalo Alex adalah bokapnya tapi di bantah sama Alex. Lalu Lucy mikir, mungkin Carlo Lisca. Yang menariknya adalah, kalo di film, ketika Alex lagi baca, di sisipin deh tuh adegan Ian lagi mahat patung Lucy yang mengindikasikan kalo Ian adalah bokap kandungnya Lucy.
Sisanya terjadi begitu aja. Filmnya nggak segamblang novelnya meskipun gue rasa novelnya juga ga se-blak-blakan gitu dalam ngasi tau kalo Ian adalah bokapnya Lucy. Bertolucci bikin Stealing Beauty kayak semacam slow burn dalam hal keluarga dan cinta. Dari filmnya, kita ga akan tau apakah Lucy sadar bokapnya adalah Ian atau bukan. Begitu juga sama Osvaldo. Padahal yang harusnya sadar akan hal itu adalah Lucy.
Sebenernya gue lupa-lupa inget sama setiap kejadian yang ada di film ini. Terutama karena gue baru nonton sekali, nggak kayak Last Tango in Paris yang udah gue tonton dua kali makanya mungkin tulisan ini agak incomprehensible.
Hal terakhir yang mau gue garis bawahi adalah, orang-orang disini memproyeksikan diri mereka kepada Lucy.
Diana, dia jadi inget Sarah terus setiap kali dia ngeliat Lucy.
Ian, gue rasa di matanya Lucy adalah Sarah yang dulu sempet menjalin cinta sama dia sebelum dia sama Diana.
Kalo Guillame gue kurang yakin apa.
Alex, dia secara terang-terangan peduli dan sayang sama Lucy. Pasti terlintas dalam pikirannya buat mencintai Lucy, mengingat dia juga pernah NAKSIR sama Sarah dan dia ngeliat Lucy sebagai Sarah seperti yang Ian lakukan. Ditambah lagi, dia bilang dia cuma jatuh cinta satu kali dan kita semua tau dia cinta sama siapa? Sarah.
Alex lumayan waras disini karena dia lemah secara fisik, jadi cara dia memuaskan dirinya adalah dengan mencari tau kehidupan hubungan seksual Lucy seperti apa. Di bagian Lucy pulang dari pesta yang gue udah lupa pesta siapa tapi disanalah dia ketemu Carlo Lisca dan pulang bareng orang yang baru dia temuin di pesta, Lucy kan nyamperin Alex di kamarnya yang lagi nyari tulisan, di adegan itu gue nganggepnya Alex yang pura-pura sibuk itu agak nervous disamperin Lucy duluan. Dan begitu dia tanya, cowo yang Lucy bawa pulang orang apa? Dan Lucy bilang orang Inggris, reaksinya agak ambigu. Karena gue gila, gue menganggap kalo dia merasa cowok Inggris itu sebagai ekstensinya dia.
Kalo di buku, setelah Alex ngomong "Off you go" dua kali, Alex nambahin; "With you.. in spirit." tanpa Lucy denger karena dia ngomongnya pas Lucy nutup pintu. WHICH IS MEAN, dia juga pengen juga bobo sama Lucy.
Gilanya Bertolucci adalah bisa-bisanya dia bikin film dengan cerita yang simpel, karakter yang simpel saking simpelnya bisa dikategorikan jadi satu kata "mesum", latarnya kehidupan sehari-hari yang mundane, tapi dalam penyampaian ceritanya begitu diatur sampe gue masih bisa mikirin segala kemungkinan yang pengen dia sampaikan dengan apa yang bakal gue tangkep berdasarkan apa yang dia tampakkan. Jadi walaupun filmnya nggak relatable, dalam tingkatan yang berbeda, dan kalo di cari terus, ada kok bagian yang relatable.
Mohon maaf sama orang-orang yang benci Bertolucci, tapi gue rasa gue ga bakal bisa benci dia karena ada Marlon dan Jeremy dan dia menciptakan karakter yang sedemikian rupa buat mereka berdua yang ga bisa bikin gue berenti mikirin.
Edit 200525:
Gue belom bilang alasan konkrit kenapa Alex Parrish jadi karakter yang paling gue sayang dan akan kebawa terus sepanjang hidup gue sekalipun gue kena dementia atau alzheimer? Adalah karena dua hal yang dia omongin.
Gue belom dapet skrinsutannya tapi ada adegan dimana Alex bilang ke Lucy:
"You need of a ravisher!" dan itu yang gue rasakan setiap hari. Gue butuh gairah, semangat! Tapi gue gatau kenapa artinya ravisher disini malah lebih ke pe*mer*ko*sa.
Yang kedua adalah kutipan dari segala kutipan, yang sangat sesuai sama diri gue dan bikin gue terkesiap bacanya;
Terkutuklah Bertolucci yang bikin Alex ngomong gini (gue masih mikirin asal-usulnya kenapa dia ngomong gini).
ADDED 170625
Di tulisan Lucy Lucy Lucy gue ngebahas tentang "Off you go"nya Alex waktu Lucy laporan dia bawa cowo pulang kan? Nah hari ini gue ketemu penjelasannya.
Berkat naluri aneh yang gue dapatkan pagi ini, gue memutuskan untuk re-download Stealing Beauty. Kayaknya gara-gara ga sengaja liat foto Alex dan Diana di Pinterest deh trus gue jadi pengen ambil sedikit skrinsut buat ganti wallpaper desktop..
Sambil menunggu, gue iseng cari-cari tentang Stealing Beauty. Gak mengharapkan dapat sesuatu yang bagus tapi ternyata gue dapet yang bagus.
Mengutip dari Poppity Talks Classic Film, sebuah laman Wordpress yang membahas tentang sudut pandang yang gak belum ke tangkep sama gue.
Beliau membahas Stealing Beauty dengan baik, lebih komprehensif dan berbobot daripada gue. Semakin gue scroll kebawah, gue menemukan satu paragraf tentang Alex dan Lucy..
"The person most taken by Lucy's presence is Alex who is in the later stages of a serious illness though who is somewhat revived with new life after her arrival..."
Rill mo nangis bacanya. Kek...Alex kuuuuuhh. Tapi ini bener. Gue tau ini, cuman baca sendiri atau denger dari orang lain rasanya beda.
"...He watches her attentively, recognising some of his own characteristics in her and perhaps even dreams of what could have come of their friendship had he not been terminally sick."
Jeremy ambil peran yang gak dimana-mana jadi yearner mulu ternyata, gue baru sadar.
"Lucy becomes his first and only love in life for which he is grateful because somehow it completes him and allows him to die more peacefully."
Oke gue mau bedah ini satu-satu.
Pertama, jadi maksudnya yang pas Lucy nangis pas bacain puisi ke Alex trus Lucy nanya (Pernahkah kamu jatuh cinta?) dan Alex menjawab (Pernah..sekali) itu Alex naksir nyokapnya Lucy atau Lucy nya neh???
Kedua.. si Alex sialan itu beneran meninggal???? Gue merinding sebadan. Alex kuuuuuuuuuuuuuu!
"She treats him by leaving her poems around his room, under pillows and randomly stuck inside his books."
JADI MAKSUDNYA YANG ALEX CARI ITU PUISINYA LUCY YANG DISELIPIN LUCY DI SALAH SATU BUKUNYA ALEX? TRUS KETIKA DI TANYA, ALEX JAWABNYA (Aku mencari tulisan terbaik yang pernah ku buat) KALO ITU TULISAN LUCY, DIA MUJI LUCY KALO ITU TULISAN ALEX, ITU ISINYA TENTANG DIA MEMUJA LUCY DONG??
Mata gue berkaca-kaca sungguh sialan Alex Parrish ini.
"Their interactions show the mutual admiration they have for one another, nurturing one another in times of need while not hesitating to show their limits when they are in disagreement. If circumstances had been different, I think it would have been lovely to see the two of them together even despite their age gap. Jeremy Irons helps uncover Alex’s more sympathetic and human side, giving a heartwarming performance that gets better over the course of the film."




.jpg)
Komentar
Posting Komentar