GLANCES BEHIND GLASSESS

Tahukah kalian, kalau aku sedang tergila-gila pada beberapa lelaki yang menggunakan kacamata?

Tidak. Tergila-gila adalah kata yang terlalu melebih-lebihkan. lalu, bagaimana jika ku gunakan kata seperti...kagum?

Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang baru bagiku. tapi juga bukan berarti aku sudah terbiasa dengan hal ini.

Pernah aku mengagumi seorang pria nun jauh disana, yang amat sangat sulit untuk ku gapai karena aku hanyalah pungguk yang merindukan bulan. Semua terasa biasa saja sebelum Ia mengenakan kacamata itu. Namun ketika dia mulai mengenakan kacamata karena alasan tertentu, aku mulai bertanya pada diriku sendiri; "Kenapa jantungku bisa berdetak lebih cepat dari biasanya? Perasaan macam apa ini?"

Namun tampaknya semua itu semu. Setelah pria itu, aku belum pernah mengagumi orang lain yang mengenakan kacamata itu.

Sampai aku tiba pada hari ini. Dimana aku baru saja menyadari, aku telah menatap pria-pria berkacamata ini lebih dari sepuluh detik. Dan aku merasa amat sangat bodoh karena sudah membiarkan hawa nafsuku tampak dari tatapan mataku.

Aku tidak seharusnya berfikir seperti ini, 
merasa seperti ini dan memiliki perasaan seperti ini....

Semuanya terasa menggelikan bagi diriku ketika aku di pertemukan dengan pria pertama ini.

Apakah menggunakan kata "pertemukan" adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pertemuan yang sifatnya sementara ini?

Baiklah,

Pertama kali aku mengetahui keberadaanmu, itu karena kau duduk begitu dekat dibelakangku tanpa memberikan celah sedikitpun antara punggungku dengan wajahmu. Dan kau tidak menggerakkan bokong malasmu itu untuk bergeser sedikit kebelakang dan memberikanku sedikit ruang.

Kala itu, aku masih memaafkanmu atas ketidak nyamanan yang kau ciptakan tanpa kau sadari itu.

Berpindah ke lain tempat, kau masih tidak memberiku ruang.

Kini kami dalam keadaan berbaris dan tentu saja, kau masih berada dibelakangku. masih membuatku sedikit tidak nyaman karena tiap kali aku hendak berbicara dengan salah seorang  temanku yang berada dibelakangmu, kau selalu menunjukkan wajahmu diantara kami berdua hingga hasratku untuk bersenda gurau dengan temanku itu sirna begitu saja.

Terima kasih.

Aku berusaha untuk berfikir positif tentang dirimu, sampai aku benar-benar tidak tahu lagi harus melakukan apa ketika kau benar-benar membuatku terganggu karena kau sudah mempersempit pergerakanku.

Tak bisakah kau mengambil satu langkah saja kebelakang dan membiarkanku leluasa melakukan apa yang harus ku lakukan? Tak sadarkah kau bahwa kau sedang membuat seorang wanita diam-diam menyimpan kekesalan dalam benaknya?

Saat itu, ku kira semuanya akan berakhir. Tapi nyatanya, kau tetap menggangguku.

Karena aku berada di depanmu sebelumnya, maka tidak heran jika aku juga duduk didepanmu. Aku sudah melupakan kejadian sebelumnya yang telah membuatku merasa terganggu, namun kau kembali, membuatku ingin mendesis; "Bisakah kau menghentikannya? Berhenti melakukan apapun yang bisa dengan sengaja atau tidak sengaja menyentuh tubuhku? Jika sulit, kenapa tidak kau bergeser sedikit kebelakang agar kau tidak perlu menggangguku lagi??"

Pada akhirnya? Tentu saja aku yang mengalah. Baiklah, aku tidak melakukannya atas inisiatif sendiri melainkan ada teman lain yang ingin bertukar tempat denganku. Syukurlah. Kini dengan keberadaanku dibelakangnya, aku akan terbebas dari gangguan-gangguan kecil dari pria ini.

Beberapa hari berlalu berganti minggu, aku menemukan pria berkacamata lainnya yang membuatku sedikit tertarik.

Hey.. siapa kah gerangan dirimu? Kemana saja kau pergi selama ini? Mengapa ini adalah pertama kalinya kita bertemu? Darimana kau berasal?

Tentu saja saat itu aku belum mengagumi dirimu. Menurutku, kau adalah orang yang misterius untuk ukuran seorang pria. Suara yang berat namun kau bisa mengeluarkannya dengan pelan dan lembut seperti hanya ingin memiliki percakapan satu arah saja. Penampilan yang tidak terlalu mencolok, berusaha sebisa mungkin tidak menarik perhatian siapapun. Dari luar, kau tampak seperti memiliki tembok besi di sekelilingmu dan celah yang kau ciptakan hanyalah menggunakan kacamatamu dan juga lubang untuk berbicara.

Kau sungguh jenis pria yang belum pernah ku temui sebelumnya, sayang.

Aku duduk terdiam dibelakangmu. Memperhatikan mu dan temanmu dengan seksama.

Kalian sangat bertolak belakang.

Dan hanya dengan sebuah kacamata, aku sudah melihat kalian seperti kakak-beradik yang kompak.

Kalian memang terlihat sangat cocok.

Aku senang melihat si pengganggu itu sedikit lebih terkontrol saat berada di dekatmu.

Ah, jangan terlalu difikirkan. Pendapatku sama sekali tidak penting untuk kalian berdua ketahui.

Selama ini, aku terlalu berfokus kepada si pengganggu, tanpa menyadari kau juga pernah ada di sampingnya dan aku selalu menganggapmu tak pernah ada.

Maka dari itulah aku sadar mengapa aku merasakan perasaan yang sedikit lebih kuat bila dibandingkan dengan dua pria sebelumnya.

"Astaga kau manis sekali..." pikirku ketika aku melihat fotomu yang ada di salah satu media sosial. Kemudian aku tersadar. "Salsa, apa yang sedang kau pikirkan??"

Pria yang satu ini berbeda dengan dua pria sebelumnya. Kedua pria yang sebelumnya kusebutkan berkulit pucat dan mungkin itu yang membuatku merasakan sesuatu yang dingin ketika tiap kali memandangi mereka.

Mungkin kata-kata berikutnya terdengar konyol dan menggelikan tetapi harus ku akui, aku merasakan sedikit kehangatan saat melihat wajahmu.

Lalu ada pria ini, yang memberikan stockholm syndrome ringan padaku.

Ketahuilah, dibalik kata-kata tak pantas dan tidak senonoh yang sering ku lontarkan, sebenarnya otak dan hatiku masih terlalu lugu.

Aku percaya ketika pertama kali melihat karakter luarmu yang dingin, tegas dan seperti tidak berperasaan sama sekali bahwa kau memang begitu adanya.

Dan harusnya aku percaya. Saat kau melepas kacamatamu karena kau sedang kelelahan dan aku melihat karaktermu yang sesungguhnya melalui mata telanjangmu itu, membuatku ingin mengetahui, seperti apa dirimu yang sebenarnya dibalik karakter luarmu?

Meski kau sebegitu kerasnya pada kami, aku masih menyimpan kekagumanku itu
untuk diriku sendiri...

Datanglah hari yang ku tunggu itu. Kau muncul, menunjukkan senyuman yang tidak pernah kau tunjukkan sebelumnya, sinar mata yang berbeda dan juga, nada bicara yang berbeda. Melihatmu seperti itu, membuatku merasakan sensasi perasaan kagum yang berbeda. Kau membuatku mengalami perasaan love-hate yang sesungguhnya.

Sebenarnya, manakah perasaan yang lebih besar dan kuat itu?
Apakah itu KEBENCIAN atau CINTA?

Komentar

Yang ini juga bagus, lho.