Tanpa disadari, udah masuk Mei aja.
Maafkan gue yang sudah M.I.A sejak 18 April. Saat-saat itu gue lagi butuh twitter dan punya jurnal baru bikin gue sangat terdistraksi. Sekarang tebak, jurnal itu juga ga gue isi secara rutin lagi. Emang harusnya ga diisi rutin ya?
Beberapa follow up dalam hidup gue, gue masih belom bergerak nyari kerja yang mulai terasa gila dan ga masuk akal but in my defense gue juga gatau harus mulai dari mana, gue masih suka Marlon dan nambah beberapa orang lagi dari era yang sama dengan zodiak yang sama, gue semakin males bersosialisasi atau bacanya semakin banyak hal di dunia ini dimana gue punya pendapat dan perasaan ditengah-tengah, gue udah punya akun di Letterboxd dimana disitu gue bisa nge-log film yang udah gue tonton secara pantas daripada yang selama ini gue lakukan (nyatetnya di google sheet).
Sejauh ini hidup gue masih diisi oleh hal-hal kecil. Gue pengen hal-hal besar tapi gue gatau hal besar apa yang gue pengenin. Mungkin nanti.
Tujuan gue nulis disini hari ini adalah karena gue sadar akan satu hal. Belakangan ini gue selalu berusaha menuliskan apa aja yang gue rasain terhadap film-film yang gue tonton, sampe akhirnya gue merasa jenuh dan meninggalkan itu sejenak. Sampe kemudian gue sadar, berkat Letterboxd, kalo seharusnya disini gue nulis film-film yang benar-benar bikin gue terkesan karena kan ga semua film yang gue tonton meninggalkan kesan di otak dan hati gue.
Maka dari itu, ini dia beberapa film yang udah gue tonton dan meninggalkan jejak dalam memori gue.
Terimakasih kepada Jung Jaewon berkat rekomendasi film-nya yang baru sempet gue tonton bulan lalu. Gue selalu skeptis sama poster film terutama yang tidak memenuhi standar estetik versi gue. City of God (2002) salah satu korbannya. Jaewon itu udah cukup lama ngunggah poster film ini di instagram-nya tapi gue belom ambil serius film-film rekomen dia. Begitu waktunya tiba, ternyata gue ga siap. Gue ga pernah siap dalam menghadapi film yang ternyata cocok sama selera gue.
Di awal film pun gue masih sedikit skeptis karena gue ga suka sama punya karakter yang ga keliatan bersih. Tapi gue mengesampingkan ketidak bersihan itu karena film-nya ba-gus.
Konsepnya klasik, tentang gangster yang menduduki sebuah wilayah tapi alur ceritanya spesial banget. Selalu ada persahabatan, persaudaraan, percintaan dan pengkhianatan buat film-film kek gini tapi rasanya beda. Terutama karena mereka semua masih dibawah umur. Dan udah bisa mengoperasikan senjata api. Jadi ada unsur tragis dan ironis disini.
Recommended banget film ini.
Seriously, I would kill to experience this masterpiece for the first time again. Karakternya Guido Orefice gak bikin gue merasakan trauma dari daddy issue, ga bikin gue merasa dia lemah, tapi justru gue merasa dia adalah karakter paling baik sedunia. Gue ga habis pikir, gimana bisa ada karakter kek gini? Hell, emang ada orang kek gini di dunia ini?
Guido Orefice bener-bener memberikan kesan ke gue kalo dunia itu bener-bener indah. Like Life is Beautiful (1997). Dia juga memberi kesan kalau mencintai tuh seindah itu. Sesuatu yang jarang gue rasain dari film-film romantis yang ternyata lebih menunjukkan tragedi dalam mencintai.
Awalnya emang ngebosenin karena Guido adalah karakter yang positif banget. Apapun yang terjadi di dalam kehidupan dia ga bikin dia kewalahan sedikitpun. Tapi semakin mendekati akhir, lo jadi merasa pengen tahu apa yang bakal terjadi sama dia dan bahkan berpikir gimana cara dia dibesarkan.
Endingnya gila banget, yang jelas gue nangis sih. Recommended parah.
Lust, Caution (2007) adalah film yang liar. Apa aja dilakukan buat melenyapkan maniak kan? Gue pikir si cewek bertindak terlalu jauh. But the tensions, bruh. Sexual tension between Chia Chi and Mr. Lee itu yang bikin film ini nikmat. Rumit, tentu tapi indah.
Emangnya bisa ya, dengan bersetubuh sama target trus bisa bikin bias? Termasuk kalo cowo-nya masokis? Ya namanya juga film, Sal. What is wrong with you?
Tony Leung disini aktingnya gila-gilaan sih. Gatau kenapa dia keren aja disini. Semua yang karakternya pengen tunjukkin, bisa gue rasain.
Mungkin kalau kalian not into rough sex, bisa di skip aja tapi film ini bagus banget.
Ya, gue emang sempet tertarik sama Warren Beatty dengan alasan yang belom tentu gue tulis disini, tapi setelah nonton kedua kalinya, bintang sesungguhnya di Bonnie and Clyde (1967) adalah Faye Dunway atau yang jadi Bonnie-nya. Damn, sekarang gue sadar kenapa nama Bonnie disebut duluan.
Bonnie disini adalah seorang fashionista berparas cantik dan berkarakter. Karakter dia disini paling banyak dinamikanhya menurut gue. Iya dia pengen ngikut Clyde, tapi aksinya banyakan di dia. Clyde-nya jadi ke over-shadowed sama Bonnie.
Kalau kalian suka cewe-cowo jadi pasangan penjahat, boleh dicoba. Bagus kok cuma ya gitu sederhana. Tapi tetep bagus. Recommended.
Gue ga sadar kalo film ini tentang Gaslighting (1944) sampe di pertengahan film. Kayaknya film ini adalah film tentang gaslighting pertama gue dan jujur aja sih ini film jadul pertama gue juga yang ga kerasa kayak film jadul.
Mudahnya adalah ini termasuk kedalam teknik manipulasi. Gue menjadi sangat berempati sama Paula Alquist. Sekaligus gue merasa Alquist adalah orang yang rapuh. Jelas aja dia rapuh, situasinya ga memihak sama dia. Sedih banget ngeliat orang di manipulasi kek gitu.
Beberapa hari lalu di twitter ada yang nanya, film jadul mana yang bakal kalian tunjukkin ke orang yang belom pernah nonton film jadul dan jawaban gue langsung film ini.
Tonton deh, siapa tau jadi suka film jadul.
Terlalu banyak yang terjadi disini, terlalu banyak yang harus di unpack dalam film ini tapi justru disitu serunya Matchstick Men (2003). Pas nonton ini posisinya gue baru saja nonton film Nicholas Cage lainnya yang berhubungan dengan gangguan psikologis. Kalo di film itu dia alkoholik, disini dia OCD. Atau kecemasan kompulsif? Gitu lah.
Gue ga pernah suka sama Nicholas Cage. I hate his face, gue ga ngerti kenapa orang-orang heboh banget sama dia. Tapi kerjaan dia cakep juga. Salah satunya ini. Gue ga ngerti juga kenapa dia ngambil 2 film tentang gangguan psikologis kek gitu.
This movie is great, salah satu yang underrated tapi yang bikin gue salfok adalah endingnya. Endingnya gemesin banget, you wish something else is happen tapi ada si ganteng ini yang muncul sejenak tapi berhasil bikin gue meleng. Bisa aja tekniknya.
Bagian pertama dari Doctor Sleep (2019) itu adalah episot depresif dan muram. Meskipun durasinya lama banget, tapi gue ga ngerasa film ini lambat. Kecepatannya udah pas dan ceritanya juga udah menyeluruh banget. Gue suka sama setiap karakter-nya yang spot on banget. Terutama si cantik Rebecca Ferguson yaampun dia cantik banget!!!
Selain itu ada juga Emily Alyn Lind yang sepanjang film gue ga bisa berenti bertanya-tanya apakah dia anaknya Helena Bonham-Carter karena mereka mirip banget!!!
Ada juga Jack Nicholson kw disitu. Pokoknya semuanya udah pas banget kecuali beberapa bagian di The Overlook Hotel yang jadi bagian di film The Shining (1980). Agak bittersweet ngeliatnya.
Sama seperti Nicholas Cage, gue juga ga begitu seneng sama Robert DeNiro apalagi setelah dia main sebagai Vito muda di The Godfather II (1974) padahal jauh di lubuk hati gue yang paling dalem, gue tau DeNiro itu terbaik banget. Terbaik dibawah levelnya Brando ya. Favorit DeNiro gue ada di film The Intern (2015) bareng Anne Hathaway.
Tapi di Cape Fear (1991), DeNiro cocok banget jadi orang jahat. Gue tuh ga masalah sama villain kek apa aja jenis-nya, tapi yang paling membekas bagi gue adalah ketika ada villain yang mukanya jelek. Kurang meyakinkan apa coba. Udah jelek, jahat lagi.
Di satu sisi karakternya DeNiro ga sepenuhnya salah tapi cara dia itu yang bikin ga nyaman. Menegangkan sih.
Oia gue ketemu aktor jadul lain yang nongol cuma sekelebat doang dan dia berzodiak Aries.
Begitulah gengs, sejauh ini, ini beberapa film yang berkesan banget ke gue. Gue masih inget beberapa adegan dari film-film ini dengan sangat jelas dan gue bangga banget sama diri gue sendiri yang berhasil menemukan harta karun ini. Selain nonton film-film yang gue temuin, gue juga aktif menonton ulang film-filmnya Brando. Karakter-karakter yang dia peranin adalah comfort bagi gue. Setelah gue selesai nonton film-film yang bikin tegang, biasanya cuplikan film dia udah cukup buat menenangkan gue.
I actually cannot wait buat nulis disini lagi kayak biasa, tapi gatau deh. Yang jelas gue gabakal ninggalin blog ini, cuma sering M.I.A aja mungkin. Hehe.
Hei, jangan biarin orang lain bikin lo meragukan diri lo sendiri. You decides what's best and good for you.
Komentar
Posting Komentar