 |
| Jeremy Irons di acara Late Night With Seth Meyers (2017) |
Mari gue jelaskan proses berpikir gue tentang penampilan Jer sebagai Alfred Pennyworth.
Jeremy muncul sebagai Alfred Pennyworth di film Batman V Superman (2016), tapi gue pertama kali ngeliat dia di film Justice League (2017). Berdasarkan review yang gue tinggalkan di akun Letterboxd, gue nggak ada menyinggung Alfred sedikitpun apalagi Jeremy. Murni fokus ke filmnya. Gak heran lah, Alfred kan cuma peran kecil.
Nonton kedua kalinya pun gue masih ga ngomongin Jer sebagai Alfred. Okelah, kecuali sarkasnya. Penulisnya; Joss Whedon, Zack Snyder, dan Chris Terio lah yang bikin Alfred jadi menarik lewat sarkasnya. Sesuatu yang ga ditemukan di Alfred versi lain seperti Michael Cane dan Andry Serkis.
Film Jer sebagai Alfred yang gue tonton berikutnya baru Batman V Superman (2016). Sayangnya Alfrednya Jer disitu agak kureng dibandingkan Justice League (2017). Terlebih lagi, Jer terlalu mirip RDJ daripada seorang Jeremy Irons.
 |
| Jeremy Irons sebagai Alfred Pennyworth di Batman V Superman (2016) |
Tanpa penulisan dari Whedon, sarkasnya Alfred memang agak kurang. Udah gitu, kehadiran Alfred bener-bener terlupakan sampe di filmnya pun kemunculan dia rasanya kayak diselipin doang.
Kesimpulannya adalah, gue lebih menikmati Alfrednya Jer di Justice League. Setiap adegan dia di Justice League sepuluh kali lebih bermakna daripada Alfred di tempat lain. Makanya gue suka banget sama film itu.
Sekarang gue ga begitu tau seperti apa Alfred Pennyworth itu seharusnya selain dia adalah seorang pelayan dari seorang Bruce Wayne. Pendekatan Jer di Alfred masa kini adalah, Alfred juga bisa ngutak-atik, bahkan menciptakan gadget buat Master Wayne. Sesuatu yang ga keliatan di Michael Caine dan Andy Serkis. Masalahnya adalah;
Alfrednya Michael Caine udah hampir mendekati. Michael Caine menghadirkan Alfred yang bernuansa pelayan sekaligus support system buat Wayne-nya Bale.
Alfrednya Andy Serkis juga sedikit lumayan. Dia bertubuh sedikit lebih kecil dari Wayne-nya Pattinson dan postur tubuhnya udah cukup buat menunjukkan kalo Alfred memang bawahannya Bruce Wayne.
Sedangkan Jeremy Irons!!!
Ngeliat Jer di rekrut sebagai Alfred dengan CV dipenuhi oleh karakter peselingkuh dan toksik, yang ngerekrut pasti ada maksud tersembunyi kan? Ini bisa diliat dari, sarkasme-nya Alfred.
Dari segi suara, seperti Michael Caine dan Andy Serkis, Jer pun juga punya aksen british sama suara serak yang khas. Bedanya, suara Jer terlalu seperti diktator. Setiap kali dia nyinder Bruce, setiap kali dia memberi nasihat atau masukan ke Bruce, itu rasanya jadi dia yang lebih gede daripada Bruce atau bahkan setara. Memang ada maksud tersembunyinya.
Kemudian ada ini:
 |
Screenshot yang diambil dari Tumblr |
Terjemahan:
"Jeremy Irons di BVS (Batman V Superman) bertekad "gimana kalo Alfred jadi lebih seksi daripada biasanya?" dan kemudian dia jadi lebih seksi daripada Bruce Wayne di rumahnya sendiri."
Gue tau nih bagian mana yang dimaksud.
 |
| Jer, lu pasti sempetin olahraga dulu biar kuat motong kayu |
Terakhir, hal paling penting yang dilakukan Jer yang membulatkan pendapat gue kalo Jer ga cocok jadi Alfred adalah interview dia di acara Late Night With Seth Meyers di tahun 2017, tahun rilisnya Justice League.
Dalam interview itu, Jer dan Seth lagi ngomongin dia seneng kalo Alfred itu ga perlu repot-repot pake kostum trus pura-pura berantem sama angin di depan tembok ijo (Yaiyalah kakek. Umur lu udah 69 yakali lu disuruh pura-pura berantem.) Tiba-tiba dia ngomong:
He's got the wrong mentality for Alfred Pennyworth, but he's so proud of himself and I think, at the end of the day, that's the only thing that matters.
Komentar
Posting Komentar