Nggak banyak film dengan angka yang bikin terkesan. Salah satunya ada film 21 (2008) yang udah lama gue tonton. Cuma dia dan 12 Angry Men (1957) yang gue kasih like. Berkat penampilan Laurence Fishburne yang bikin gue tegang, sampe lupa kalo wajah tampan Jim Sturgess ada disini. Salah satu film judi terkeren yang pernah gue baca.
Malu-maluin, gue tau. Sopir? Jadi sopir?? Tapi emang gue ada beberapa kali membayangkan kalo enak kali ya jadi sopir. Pribadi, tapi. Kayak Tony Lip nganterin Dr. Donald Shirley keliling negeri di film Green book (2018). Kalau mau lebih gila lagi, gue pengen jadi kayak Leon. Dari Leon the Professional (1994). Malu-maluin? Emang.
Day 6: your favorite animated film
Jujur nggak nyangka Puss in Boots: The Last Wish (2022) bagus banget pas gue tonton. Biasa. Suka skeptis sama film animasi. Film animasi kan identik sama anak kecil, tapi ini nyambung juga ke orang dewasa karena mengangkat tema menghadapi kematian dan gue rasa anak kecil perlu melihat hal-hal gelap lewat warna-warni animasi cantik.
Day 7: a film you'll never get tired of
Selain rekor rewatch tak tercatat Our Times (2015), RRR (2020) menyusul dengan ditonton sebanyak 5 kali dalam satu bulan, dan 8 kali secara keseluruhan KARENA EMANG SESERRRU ITU. Semua yang lu cari dalam film, ada disini. Film perang? Ada. Film persahabatan? Ada. Film romansa? Ya ada lah. Musikal?? Beuh lagunya enak-enak. Film aksi? MCU lewat, bos!
Day 8: a film where you liked the soundtrack more
Gak pernah kebayang sama gue sebelumnya kalo soundtrack dari film sci-fi bisa se-enak dan sebagus Dune (2021). Bener-bener sebuah pengalaman tersendiri ketika nonton Dune di bioskop. Sinematografinya bagus, musiknya out of this world, propaganda "Fear is the mind killer" yang terus disuarakan oleh Timothee itu juga ngena banget. Tapi intinya adalah Dune punya soundtrack terbaik yang pernah gue denger. Dan mungkin gue lebih suka sama sountdtracknya daripada filmnya.
Day 9: a film you hate, everyone else likedKategori termudah sekaligus tersulit. Gue banyak benci sama film yang orang lain tuh pada suka sampe gue meragukan diri gue sendiri. Giliran gue menerima diri dengan ya udah, selera orang beda-beda, eh sampe sekarang gue sulit ketemu film yang gue suka. Makasih loh buat yang udah gue bikin uring-uringan liat rating gue. Mungkin kalian ngasih kutukan ini ke gue.
Persiapkan jantung kalian karena gue bakal mengatakan sesuatu yang kontroversial. Film Ghibli over-over-over-over-overrated. Memang, film Ghibli pertama gue Howl's Moving Castle (2004) sangat berkesan tapi gue ga bisa inget apa yang menurut gue bagus kecuali animasi dan Howl-nya. Memori gue tentang cerita Howl ini pun berserakan banget.
Nah kalo The Wind Rises (2013) bener-bener ngecewain gue. Ceritanya cuma tentang orang yang bikin pesawat perang dan punya istri yang sakit. Apa? Hah? Romansanya nggak dapet, blok.
Day 10: your favorite superhero film
Bertahun-tahun nontonin MCU, begitu ketemu
X-Men: First Class (2011) berasa dapet wahyu, dapet pencerahan, dapet hadiah, dapet pandangan baru, pokoknya terbuka lah cakrawala gue. Dari mulai karakter Charles Xavier, salah satu atau satu-satunya karakter baik tanpa pamrih yang selalu optimis dan positif yang pernah gue liat dalam sejarah perfilman, ngeliat
soon-to-be-villain yang kayak membangun hubungan romantis sama Prof.X.. Magneto dan Prof.X aja udah cukup bagi gue.
Day 11: a film you like from your least favorite genre
Kan udah sering kalo ngomongin genre paling gue ga suka adalah War. Kali ini ada genre lainnya yang ga gue suka karena ga pernah ketemu yang bagus; horror. Jarang banget gue ketemu horor yang efektif yang emang beneran bikin ngeri. Bukan cuma ngandelin jumpscare murahan. Kalo pengen nonton horor tanpa jumpscare tanpa hantu, Marrowbone (2017) jawabannya.
Day 12: a film you hate from your favorite genre
Gue anak aksi. Dari dulu kalo ditanya, genre favorit gue selalu aksi. Laki betul, gue sadar. Sebenernya gue juga suka rom-com tapi belakangan ini rom-com mengecewakan.
Sengaja gue pilih film yang sebagian besar mutual gue di Letterboxd suka tapi gue sendiri yang ngasi rating setengah. Jelek banget wooii gue ga ngerti apa yang diliat orang-orang dari The Empire Strikes Back (1980) yang trope benci jadi cintanya lembek banget, aksinya bikin ngantuk dan secara keseluruhan juga gaada bagus-bagusnya itu.
Day 13: a film that put you in deep thoughts
Apa yang dikatakan dengan deep thoughts? Apakah juga berarti film yang ga ada habis-habisnya gue pikirin secara cerita atau secara karakter? Kalo gue inget-inget, belum ada film yang gue ga abis pikir kecuali dua film Bertolucci dan satu dari Haneke. Dan keduanya menyangkut kepada pertanyaan-pertanyaan tentang karakter, bukan cerita. Kalo cerita kan bisa mikirnya, yaudah emang gitu ceritanya. Tapi kalo karakter kan jadi pengen tau kenapa dia kayak begini dan kenapa dia melakukan itu.
Iya jawabannya Stealing Beauty (1996) lagi.
Day 14: a film that gave you depression
Ada satu film dokumenter ini yang begitu gue selesai nonton gue langung galau se-galau-galaunya sampe gue nulis lirik lagu yang menurut gue menggambarkan perasaan gue setelah nonton film itu. Judulnya Dear Zachary: A Letter to a Son About His Father (2008). Tentang kasus pembunuhan biasa, tapi pengemasannya itu luar biasa sampe setelah gue pikir-pikir lagi sekarang, hebat banget sutradara/penulisnya bikin Zach itu keliatan mulia banget sampe gue ikutan sedih saat nyimak bagian dia di bunuh.
Mesti nonton. Film dokumenter yang sangat gue rekomendasikan sampe gue ketemu doku lain yang sama atau lebih bagus dari ini.
Day 15: a film that makes you feel happy
Yang bikin gue "Happy" tentu bukan Guy Jones si pendatang baru di sebuah kota dan pendatang baru di kelompok teater lokal terus dia tidur sama beberapa cewek dalam kelompok itu. Tapi gerak-gerik goofy assnya Jeremy Irons yang bikin gue merasa giddy sendiri tiap kali mau nonton ini atau cuma sekedar mikirin film ini.
Day 16: a film that is personal to youHohoho! Cuma satu film yang gue baperin dan bener-bener gue banget. Kalian mungkin udah sering denger film yang judulnya Our Times (2015). Itu lho yang tentang cewe yang belum paham gaya, trus tiba-tiba jadi paham gaya setelah dia merasa baper sama partner dia dalam usaha memisahkan gebetan mereka berdua? Yang cewenya jadi pemberani setelah lama berkawan sama partnernya ini yang emang anak brandalan? Yang hubungan mereka berdua menghasilkan benefit tak terduga?? Yang si berandalan ini peduli sama kesukaannya si cewe culun????
Day 17: favorite film sequel
Udah 3 tahun sejak gue pertama kali nonton Mad Max: Fury Road (2015) dan tergila-gila sama filmnya sampe beli kaos-nya dua tahun lalu (kurang lebih). Sejujurnya gue sendiri pun udah lupa kayak mana ceritanya saking lamanya udah gue ga nonton. Tapi diantara semua sekuel yang pernah gue tonton, kayaknya cuma ini yang gue kasih rating hampir sempurna... MARI KITA REWATCH!
Day 18: a film that stars your favorite actor/actressSerius nih kategorinya?? Barusan pas selingan dengan twitter gue juga baru movie-fess seseorang yang nanyain aktor favorit dan film terbaiknya.
Gue selalu pengen ngomongin Jeremy Irons di film Lolita (1997). Dia disitu sebagai pengingat kalau, ini lho definisi aktor yang sebenarnya. Dan gue belum pernah liat akting bikin merinding karena bagus sekaligus merinding ngeri saking bagusnya dia akting dalam satu waktu. Mungkin Joseph Quinn bakal soon-to-be that kind of actor tapi jam terbang dia masih perlu di tingkatin dulu.
Dia bikin gue punya pemikiran kalo, gaada cinta yang salah. Mau lu cinta sama siapa aja itu wajar dan lumrah. Cuma mungkin cara pengungkapannya yang salah, itu gue akui. Tapi gue gamau menghakimi Humbert Humbert cuma karena dia cinta sama Dolores. Salahnya ada di Humbert yang memanfaatkan Dolores demi kepuasan seksualnya. Iya, cintanya dia sampe ke titit dan disitulah salahnya. Perasaannya ga salah, outputnya yang sakit jiwa. Tapi ekspresi cinta/hornynya itu loooo.
Day 19: a film from your favorite director
*menghela nafas* Sejauh ini, sutradara yang gue akui secara terbuka jadi favorit gue ada Wes Anderson sama Bernardo Bertolucci. Masalahnya, gue gatau harus masukin film yang mana.
Lagi-lagi
Fantastic Mr. Fox (2009). Padahal ada yang paling baru. Karenaaa gue baru nonton Mr. Fox dua bulan lalu. Dan begitu gue tonton ulang, bagusnya masih kerasa.
Di Letterboxd, gue punya tag "Sleeping Pills", isinya film-film yang bikin gue ngantuk. Dari 14 film yang ada, cuma satu yang gue tulis kalo gue tidur siang dulu di tengah-tengah film baru ngelanjutin lagi. Nama filmnya Le Doulos (1962). Di todong pestol pun gue ga bakal bisa kasi tau filmnya tentang apaan.
Day 22: a film that made you angry
Definisi gue dalam film yang bikin gue marah adalah, film yang endingnya ga sesuai atau ga masuk akal. Atau bisa juga film yang pas selesai gue tonton rasanya buang-buang waktu aja. Nah gue punya film yang kek gitu. Baru gue tonton pula. Salah satu film yang pengen gue tonton di bioskop tapi kelewat, pula. Namanya The Bikeriders (2024).
Film yang terinspirasi dari The Wild One (1953) ini sama sekali nggak punya semangat pemotor yang pada umumnya. Gausah jauh-jauh ke The Wild One. Yang secara umum aja gaada. Dan parahnya lagi, gue baru tau pas abis filmnya kalo ternyata berdasarkan BUKU FOTO. Lu bayangin. Pantesan semati matanya Boyd Holbrook.
Day 23: a film made by director who is dead
Gue ngga meratiin sutradara, apalagi sutradara yang udah meninggal jadi gue ambil dari film lama yang udah pasti sutradaranya udah meninggal juga; Elia Kazan dengan A Streetcar Named Desire (1951). Kenapa? Karena gue hormat sama Marlon Brando dan karena ngga ada aktor manapun dari dulu dia terkenal sampe sekarang dia hampir 100 tahun kalo masih idup, punya kualitas yang hampir mirip sama dia. Marlon Brando adalah aktor yang punya kekuatan luar biasa yang hanya muncul tiap 100 tahun sekali kalau kita beruntung.
Day 24: a film you wish you saw in theaters
Sejauh ini belum ada yah. Kalo di tulisan kemaren ada gue pengen nonton The Godfather (1972) di layar lebar. Sekarang harus udah ganti dong? Sekarang gue maunya coba nonton film sepi macam The Piano Teacher (2001) di bioskop. Gatau ya, The Piano Teacher ini sunyi, bgm-nya cuma permainan piano atau musik piano tentunya dan filmnya juga tabu jadi pengen ngerasain aja gimana ngeliat hal tabu dilayar segede gaban. Sayang di Indon ga bisa pasang film jorok dan kalopun bisa, gue di tahun 2001 masih bocil mana bisa nonton film yang perlu KTP.
Day 25: a film you like that is not set in current era
I'm suck with this category.
Pilihan gue cuma
period drama, atau sci-fi kan? Gue pilih
sci-fi. Karena
period drama yang pernah gue tonton seringnya berat di cerita daripada nuansa.
Valerian and the City of a Thousand Planets (2017) jadi salah satu
sci-fi kesukaan gue karena banyak aktor cakep (Dane DeHaan, Rutger Hauer dan Ethan Hawke yang gantengnya disini doang),
fun dan meng-eksplorasi setiap bagian dari planetnya dan romansanya pun berhasil.
Day 26: a movie you like that is adapted from somewhere
Mau jawab Stealing Beauty (1996) tapi takut nyebelin dan gak variatif. Tenang aja, filmografinya Jeremy Irons masih banyak yang belom gue omongin.
Sudahkah gue ngomongin tentang Being Julia (2004)? Sebuah film yang gue tonton pas marathon Jeremy yang ga gue sangka, BAGUS BANGET. Ga ada yang pernah ngomongin soal film ini. Aktingnya gue suka, karakternya dan ceritanya di adaptasi dengan baik sama István Szabó. Jeremy memang ga terlalu disorot disini selain jadi suami tampan kesayangan Annette, tapi tetep dia di foreshadow selingkuh. ATAU CUMA BAYANGANNYA AJA KARENA ORANG YANG SELINGKUH PASTI MIKIR, SEMUA ORANG JUGA SELINGKUH?
Calm down omg...
Day 27: a film that is visually striking to you
Gue lupa Batman (2022) adalah film paling baru yang memukau mata gue! Dari layar laptop pun kerasa banget indah lampunya ke mata gue. Atau gue emang mudah tertarik sama warna merah ya?
Day 28: a film that made you uncomfortable
Dulu sih sempet The Wolf of The Wallstreet (2013), tapi untuk sekarang ada film yang sutradaranya Gaspar Noe judulnya Enter The Void (2009). Sampe detik ini gue ga berhasil nyelesaikan filmnya karena banyak kelap-kelip lampu ngalahin diskotik. Capek dan takut tiba-tiba malah jadi kejang.
Day 29: a film that makes you want to fall in love
Gaada sih.
Eh adadeng.
Jadi ada film youtube gitu, judulnya My Love, Don't Cross the River (2014) tentang romantisme pasangan lansia asal Korea Selatan aja. Tapi gue nangis dari awal film. Berenti. Nangis lagi. Berenti. Nangis terus ga abis-abis. Merinding sebadan-badan ngeliat kakek-nenek itu. Sebagai individu yang ga pernah melihat romansa secara nyata dari orang-orang terdekat, pasangan lansia ini untuk sesaat berhasil meyakinkan kalo ternyata masih ada orang-orang yang kayak pasangan lansia ini. Nonton deh, sumpah ga bakalan nyesel.
Day 30: a film with your favorite ending
Mari gue tutup tulisan kali ini dengan salah satu film terbaik sepanjang masa versi gue:
Dinner in America (2020)! Yay!
Dinner in America punya ending yang bagus bagi Patty yang akhirnya punya pekerjaan (perpanjangan tangan Simon) dan walaupun Simon secara tidak adil di penjara, tapi dengan takdir itu bikin hubungan mereka makin penting dan kuat.
That was tits! Semoga di kesempatan berikutnya film yang gue bahas bisa lebih bagus lagi, aamiin!
Komentar
Posting Komentar