LO
I have so many thoughts of Jeremy Irons. Yang sering gue ceritain disini cuma Stealing Beauty doang bolak-balik. Sisanya ada ngomongin dia sebagai Alfred di film-film DC dan satunya lagi malah ngomongin peran dia di Brideshead Revisited yang bahkan gue sendiri ga suka sama serial itu.
Pemikiran gue tentang Jeremy itu berantakan. Sebentar kepikiran film ini, sebentar kepikiran Dead Ringers, sebentar keinget hubungan dia sama Sinead, sebentar keinget Stealing Beauty lagi.
Ini aja gue pengen nulis tentang dia karena belakangan ini gue bener-bener ngomongin dia mulu di Twitter. Sekarang giliran udah di Blogger, gue langsung ngeblank dan lupa apa yang pengen banget gue omongin atau ngelanjutin pemikiran yang mana.
Bentar cek Twitter dulu.
She was Lo, plain Lo, in the morning, standing four feet ten in one sock. She was Lola in slacks, she was Dolly at school. She was Dolores on the dotted line. But in my arms she was always - Lolita. Light of my life, fire of my loins. My sin. My soul. Lolita.
Siapa yang gak familiar sama Lolita? Sebuah nama yang digunakan untuk menggambarkan anak perempuan dibawah umur ini pertama kali gue baca dari komik Detektif Conan. Waktu itu ada kasus yang melibatkan gadis yang berdandan seperti Lolita.
Dua tahun lalu lah gue baru ketemu sama film Lolita, terimakasih kepada Jeremy. Di film itu dia berperan sebagai Humbert Humbert. Nama pecundang. Nama paling ga kreatif karena diulang dua kali. Tapi berkat Jeremy dan Dominique, film Lolita mereka pantes untuk di tonton.
Pertama kalinya gue nonton Lolita dalam rangka Jeremonth, gue sempet kasih rating 2.5 bintang doang dengan review yang cukup ambigu. Dapat dipahami karena gue lagi ga fokus, terlalu banyak menonton film hari itu, atau terdistraksi oleh visualnya Jeremy.
Gue masih bodoh waktu itu. Gue percaya kalo Dolores pantes digituin sama Humbert karena dia-nya cewek menjelang puber tanpa figur ayah yang hiperaktif. Tapi setelah tau film itu dari kacamata Humbert, pendapat gue berubah.
PANTESAN DOLORES KEK GITU! Semua gerakan Dolores jadi seperti penggoda di mata Humbert.
Kalo udah memahami ini, tindakan Humbert baru keliatan ngerinya.
Bagian ini adalah dimana Humbert jemput Lolita di kamping musim panas setelah Humbert menyudahi hidup Charlotte Haze yang tidak lain dan tidak bukan adalah nyokapnya Dolores. Lolita memutuskan ganti baju disana dan ada detail penting yang bikin darah berdesir.
Mereka lagi ngomongin Charlotte dan ketika Humbert melirik Lolita berganti baju lewat kaca spion, ucapannya jadi seperti menghela nafas menahan rangsangan yang muncul. Begitu gue sadar sama itu gue terbelalak.
Ada juga adegan lain yang ga bisa gue temuin gifnya, nggak kalah bangsatnya.
Hari dimana Dolores diantar ke kamping musim panas. Harusnya ini dulu ya??
Iya di adegan itu, Dolores teringat dia belum pamit sama Humbert setelah liat dia lewat jendela. Gambarnya diambil dengan sedemikian rupa, diambil ganti-gantian antara Dolores yang lari dengan goofynya, sedangkan Humbert mempersiapkan dirinya untuk menyambut Dolores.
Dolores lari ke pelukan Humbert, KAKINYA NAIK KE BADANNYA HUMBERT DAN MEREKA BERCIUMAN PEMIRSA. Mereka ciuman selama beberapa saat dan pas Dolores turun, kalian mesti lihat betapa keenakannya mukanya Humbert. Kamera fokus ke perut, bekas selangkangan Dolores nempel tadi. TERUS MUKA KEENAKANNYA HUMBERT.
![]() |
| Sedep ye? |
Ga bisa nggak nyebut anjink kalo ngeliat akting Jeremy di Lolita.
Sebelum rewatch gue sempet ngehighlight yaitu gue seneng ngeliat Jeremy yang biasanya berwibawa dan tidak tersentuh(?) itu, sering kena tampol dan kena tendang sama anak bocah. Mana tiap digituin cengengesan mulu mukanya idih.
Bukan cuma Jeremy doang yang mampu berakting horni dengan baik, Dominique juga perlu diacungi jempol karena gitu-gitu chemistry dia sama Jeremy ada. Jauh lebih dari Lolita versi lain yang ga perlu dibicarain lebih jauh. Bikin mual saking jeleknya.
Ada juga bagian dia nge-reog di rumah sakit setelah tau Lolita-nya dibawa pergi sama orang lain. Itu nikmat banget. Dia nge-tackle suster cowok sampe jatoh-jatoh, mulutnya ditutup sama orang-orang, begitu dia ngeliat polisi dateng, langsung berubah. Langsung throwing peace sign. Wah. Nikmat banget gue ngeliatnya.
Gue suka Jeremy di awal-awal karir karena dia suka memeran orang yang ga bermoral. Moralnya ada di kemaluannya terus. Horni terus perannya. Dan gue suka dia itu menganggap method acting itu hina. Mungkin bukan hina, tapi kayak 'Elah ga gitu juga kali. Biasa aja, kali.' Toh buktinya dia ga perlu jadi pedofil dulu buat memerankan Humbert tapi dia sukses banget kok memerankan Humbert.
Daripada aktor satu itu. Yang udah mau seratus tahun usianya. Salah satu pelopor method acting yang filmnya gaada yang bagus setelah tahun 1972. Siapa lagi kalo bukan Marlon??
Makanya gue rada takut Jeremy dan Benwa menggeser posisi seorang Marlon dari top aktor gue.



Komentar
Posting Komentar