I've tasted employment and I've tasted unemployment. I recommend not being born.
Kok orang-orang bisa ya hidup kayak gini. 9-5 selama lima hari.
Iya sih kondisi gue:
- Gaji jauh dibawah UMR
- Posisi rendah
- Ga punya tantangan
- Kerjanya 9 jam selama enam hari
Positifnya dari kerjaan ini cuma jaraknya 15 menit dari rumah, free wifi (ini nggak ngaruh juga karena gue juga pake wifi dirumah) dan punya meja sendiri (kayak dirumah) (bahkan dirumah bangkunya lebih enak).
Mungkin kalo gaji gue diatas UMR, posisi gue udah tinggi dengan banyak tantangan baru tiap hari, sama jam kerjanya bagus, gue akan merubah pendapat gue. Untuk sekarang, gue bersama orang-orang yang lagi kesulitan nyari kerja dan yang kerjaannya nggak memberi upah dengan layak.
Kita tuh ga di takdirkan untuk bekerja. Hierarki Kebutuhan Maslow aja nggak ada masukin BEKERJA. Kita butuh aktualisasi diri. Ekspresi diri. Lingkungan pekerjaan bukan tempat yang kondusif menurut gue.
Gue ga bisa ngeluh sama pekerjaan yang gue jalanin sekarang. Walaupun belum bisa bantu membayar biaya kebutuhan rumah tangga, tapi buat jajan-jajan receh gue masih bisa. Sebagai ganti minta uang jajan sama bokap gue yang udah pensiun aja sih. Dan ini yang bikin gue resah. Lagi-lagi usia. Di usia gue yang sekarang ini kalo gue liat ke kiri dan ke kanan, semua keliatannya udah menemukan jalan hidup baik dari segi karir dan percintaan, bahkan udah ada yang sering travelling.
Tentu gue bahagia buat mereka, tapi kadang gue terdiam dan berpikir: Kapan Giliran Gue?
Makin kemari tuh hidup rasanya kayak untuk survival doang dan jangan bilang gapapa karena ini harusnya ga di normalisasi. Yang survival itu orang-orang di zaman purba, bukan di 2025. Jauh di lubuk hati gue, gue ga suka kalo orang-orang berusaha menetralisirkan emosi mereka dengan validasi-validasi yang bikin lemah. Berontak, bilang ga setuju, kejar apa yang emang pantes lo dapetin dan lo mau.
Gue ga butuh validasi, gue butuh pencerahan, step-by-step apa yang bisa dan yang harus gue lakukan, tapi sayang di dunia ini aturan-aturan itu bisa di puter balik sesuka orang yang bikin aturan.
(Keluh kesah ini ditulis dengan motivasi kejenuhan terhadap hidup yang dijalani)

Komentar
Posting Komentar