FATHERLESS
Gue 100% setuju sama wanita Korea Selatan yang nggak mau nikah karena cowok-cowok disana gak pantes dinikahin apalagi jadi seorang bapak. Kalo dirasa perlu, nggak nikah pun gue rasa nggak papa di zaman sekarang. Gue pribadi pun kayaknya udah 95% mantap nggak mau punya anak. 5%nya lagi kalo suami gue ternyata salah satu dari idola gue dan alasan-alasan lainnya yang bikin gue berubah pikiran di kemudian hari. Tapi untuk sekarang, gue nyaman dengan pemikiran seperti itu.
Sejujurnya gue udah nggak punya harapan lagi sama dunia yang sekarang. Tempat gue hidup dan apa yang terjadi di dalamnya. Setiap kebaikan dan harapan yang muncul dari kebaikan orang-orang yang sekarang dengan mudah bisa diliat dari media sosial, tetep nggak cukup bila dibandingkan dengan segala kebejatan yang sedang berlangsung saat ini. Kayak, sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit itu udah terlalu berat buat dicapai karena standarnya sekarang adalah sedikit-sedikit harus dibikin jadi gunung setinggi langit.
Semua serba sulit sekarang. Semua yang penting, sulit sekali buat mencapainya. Anehnya, yang mudah dicapai jadi nggak ada artinya padahal gue rasa penting buat mengapresiasi hal kecil karena hal kecil itu juga penting kan.
Di Indonesia sendiri banyak banget individu-individu yang fatherless. Temen-temen gue pun banyak yang fatherless. Itupun gue taunya baru-baru ini. Gue nggak tau cara mengidentifikasi perilaku fatherless kayak apa atau stereotipnya kayak apa. Kalo dibilang individu fatherless itu selalu haus akan perhatian cowok-cowok, mungkin iya tapi nggak semuanya tuh. Tapi mungkin bisa juga jadi salah satu spektrumnya.
Gue baru-baru ini doang sadar, kalo gue bukan cuma fatherless lagi. Gue bener-bener nggak punya sosok pria dalam kehidupan gue. Darimulai kakek. Gue nggak punya kakek sejak kecil. Kakek dari nyokap udah meninggal sejak nyokap gue kecil. Kakek dari bokap, udah meninggal pas gue kecil. Mana meninggalkan kenangan pahit lagi di masa kecil gue, sama kayak anaknya. Tapi gue nggak begitu inget sih gimana jahatnya dia dulu ke gue.
Udah gitu, gue cuma punya om tiga orang. Dua dari nyokap, satu dari bokap. Satu dari nyokap jauh banget sama gue, yang satu lagi juga nggak deket. Satu dari bokap, gue akui paling lumayan. Dulu kayaknya dia suka basa-basi dan bercanda kayak yang seharusnya dilakukan oleh seorang om. Laki-laki. Bapak-bapak.
Tapi gue punya masa kecil yang lekat banget sama sepupu-sepupu cowok gue dari keluarga nyokap. Yap. Sepupu gue cowok empat, cewek tiga. Itupun tuaan gue daripada sepupu gue yang cewek. Banyak banget memori gue sama sepupu-sepupu cowok gue.
Kalo sepupu yang agak jauhan lagi lebih bervariasi dan rata-rata umurnya juga pada dibawah gue. Gitu juga sama sepupu dari bokap.
Seperti yang udah pernah gue inget, tiga sepupu dari nyokap ini sangat berkesan di gue dan gue cukup merasa mereka ini punya peran dalam masa tumbuh kembang gue sebagai anak-anak.
Lucunya adalah, gue pernah cerita kan tentang nyokap gue yang may or may not naksir dokter obgynnya yang ganteng ketika lagi hamil gue? Yap, gue rasa hal itu berpengaruh terhadap gue yang sekarang ga bisa berenti naksir cowo-cowo ganteng apalagi makin tua gue selera gue jadi ke bapak-bapak juga. Sekarang gue memandang itu sebagai coping mechanism gue yang kekurangan sosok lelaki ini.
Berhubung gue fatherless, berikut adalah sosok pria yang gue anggap sebagai bapak gue sendiri dan gue harap mereka jadi bapak, ayah, papa, atau...suami gue nanti. Aamiin.
1. Bapak Don Vito Corleone (Andolini)
Bapak pertama gue nih! Mungkin. Gue lupa.
Gue bisa melihat kenapa banyak pria-pria alfa pada menjadikan Bapak Vito Corleone sebagai panutan mereka terlepas dari kejatuhan bapak itu di pertengahan cerita. Dia bijaksana, terukur, dan yang selalu gue bilang; pasif-agresif. Cara dia mendapatkan apa yang dia mau dari orang-orang biasa yang minta tolong ke dia itu muter-muter dan nunjukkin kesalahan lawan bicaranya. Salah dia memang cuma satu, sayang anak sampe anaknya pada nggak bener. Untung ada satu yang kuat buat lanjutin kekuasaan mereka.
Kutipan dia paling terkenal: I'm gonna make him an offer he can't refuse menunjukkan kalo dia akan mendapatkan semua yang dia mau dan orang-orang ga bisa bilang TIDAK sama dia. Lambang dari kekuasaan dan kekuatan penuh ada di dia.
2. Bapak Aragorn II
Buongiorno principessa! adalah frase yang digunakan Bapak Guido Orefice buat menggaet calon istrinya. Berhasil kah? Ya berhasil!
Gue denger-denger ada yang pernah bilang kalo Leon ada kecenderungan autisme. Selama ga toksik dan pedofil gapapa sih.
Nahloh. Viggo Mortensen lagi-lagi merepresentasikan sosok pemimpin dan ayah yang sesuai buat gue. Kali ini melalui peran dia sebagai Ben Cash di film Captain Fantastic (2016), dia jadi bapak tunggal terhadap enam anaknya sambil meneruskan pola asuh yang diinginkan oleh mendiang istrinya.
Cha Tae-sik ini malah belum punya anak. Dia sebelas duabelas sama karakternya Leon, tapi bedanya Cha Tae-sik ini punya masa lalu kelam dan menganggap, adik kecil bernama So-mi sebagai anaknya yang tak sempat terlahir ke dunia. Kebetulan pula hidup So-mi terancam sama organisasi narkoba karena kesalahan ibunya.
Kenapa ya gue masukin Alex lagi... Kenapa gue merasa ingin punya Alex sebagai bapak... Apa sifat kebapakan dia di film ini... Ya karena diantara semua orang di sekitar Lucy yang berusaha memangsa dia, cuma Alex yang nanya WHATS THE MATTER? ketika Lucy lagi sedih. I'M SORRY ketika dia tahu dia udah bikin Lucy bete. yang bilang I'LL DO SOMETHING ABOUT IT ketika dia melihat luka di lutunya Lucy.
Ga nyangka kan seorang Benoit Magimel gue jadiin sosok bapak bagi gue? Memang disini dia kayak Alex Parrish banget buat Naima yang masih lugu dan naif tapi udah terseret ke kehidupan dewasa sama sepupunya. Meskipun tipis-tipis, adalah usahanya Phillipe buat merasa Naima lebih terinclude di tengah-tengah orang dewasa pretentious yang gue rasa Phillipe sendiri pun udah imun dari hal-hal kayak gitu.
Bapak dari segala bapak yang pernah gue tau. Belakangan ini gue memang menganggap dia sebagai people pleaser tapi itu emang murni kemampuan dia aja dimana dia bisa mengatakan apa yang pengen di dengar sama lawan bicara.










Komentar
Posting Komentar